Selasa, 31 Juli 2012

Prajurit Cupang | Part 1

By: Feby Andriawan

Kelas 6 SD adalah masa dimana gue diajari tanggung jawab oleh bokap dan nyokap. Salah satu bentuk tanggung jawab itu dimulai dari hal yang kecil, yaitu pelihara hewan. Hewan peliharaan yang pertama kali gue lihat di rumah gue adalah ikan mas koki, sapujagat dan ikan-ikan hias lainnya. Untuk masalah ini, bokap gue adalah orang yang paling rajin mengurus para ikan itu. Setiap hari, bokap gue ngasih makan tuh ikan, bersihin akuariumnya dan ngebuang ikannya kalau ada yang mati. Sejak saat itulah gue terpanggil untuk pelihara ikan juga. Tapi gue gak tertarik sama sekali untuk pelihara jenis-jenis ikan yang ada dalam akuarium. Gue mau pelihara ikan yang beda. Gue gak mau jadi plagiat. Lagi asik berpikir tentang ikan apa yang bakal gue pelihara, tiba-tiba teman kecil gue bernama Boninka datang. Seperti biasa tuh anak datang dengan ngetok-ngetok kaca kamar gue dari luar sambil memanggil dengan sebutan yang enggak banget, "Ebik,, Ebikk,, maen yukk!". Sumpah itu anak suaranya gede banget, kalau gak gue buka dia makin kenceng ngetok kaca kamar gue. Demi mengantisipasi kaca kamar biar enggak retak, gue nyerah, gue akhirnya mempersilahkan anak dengan rambut ikal cepak bertubuh cengkring itu masuk.

Inka (panggilan untuk Boninka) masuk dengan membawa toples selai roti kecil di tangan kanannya. Gue heran, menurut gue, Inka adalah bocah yang selalu menghadirkan hal-hal baru di dalam hidup gue. Pernah dia datang ke rumah gue dengan membawa jaring untuk ngajak gue berburu belalang. Dengan penuh rasa penasaran, gue ngeliat tuh toples selai. Mata gue mendapati seekor ikan di dalamnya.

"Ka, itu ikan apaan?" gue sambil ngeliatin tuh ikan dengan antusias.

"Oh ini, iwak tempalo!" (baca: ikan cupang)

Gue memandang wajah teman kecil gue itu dengan penuh haru. Gue pegang sisi kanan dan kiri kepala Inka dengan kedua tangan gue. Raut wajah gue mendadak ceria karena gue telah menemukan ikan apa yang harus gue pelihara, gue berbisik di depan wajah Inka, "Lo brilian Inka! Lo Jenius!!". Inka hanya diam, heran dengan tingkah gue yang mendadak maho. Kemudian kita berdua berbincang-bincang tentang ikan cupang. Kata Inka, ikan cupang adalah ikan laga. Ikan cupang itu seperti prajurit yang siap memenangkan pertempuran di setiap arena. Sejak saat itulah gue terjangkit virus cupang. Kedatangan Inka itu seperti setetes air di padang pasir yang gersang. Gue membulatkan tekad untuk memelihara ikan cupang. Gue langsung menyatakan niat gue untuk pelihara ikan cupang ke bokap nyokap, dan mereka setuju dengan catatan gue sendiri yang ngurus.

Besoknya gue datang ke sekolah dengan dandanan yang culun seperti biasanya. Sebelum gue sampai ke kelas gue 6C (saking begonya di golongan C), gue mampir dulu ke kelas 6B buat manggil Si Gemboool alias Riyan dari luar. Dengan modal perut tambunnya, do'i datang menghampiri gue.

"Yan, gue mau pelihara cupang nih!"

"Ai, gue udah dari dulu pelihara itu ikan. Tumben ente mau pelihara hewan sekarang?"

"Ya, ini gara-gara bokap gue kayak enak banget pelihara ikan di akuarium. Nah, gue mau main ikan cupang aja deh, yang agak kecilan dikit."

"Iya sih, eh gue tau siapa yang jualan ikan cupang di sekolah kita lho."

"Hah, emang ada? siapa Yan?"

"Dia adalah Kaffah, sekelas dengan ente!!"

Jeng.. Jeng.. Jeng...

"Kaffah? Kok gue gak tau ya? Nah itu dia tuh, anaknya baru datang. Oiiii, Kaffah, sini ente...."

Sosok cungkring berambut belah tengah, berkulit sawo matang bersih dan berhidung mancung sekarang ada di hadapan gue sama Riyan. Kaffah adalah sohib gue yang paling jahil. Dia adalah orang yang paling iseng dengan gue, walaupun rada-rada maho, tapi dia sebenarnya adalah pria melankolis nan romantis. Seperti biasa, Kaffah menyambut dengan kalimat khasnya ke gue, "Oi, bebek, ada apa nih manggil-mangil? kangen ya?" (nb: bebek di bacanya bukan bebek hewan unggas).

"Gini Kaf, gue mau beli cupang sama lo. Gimana?"

Pertanyaan gue yang singkat itu ternyata ditanggapi dengan serius oleh Kaffah, dia memegang pundak sebelah kiri gue dengan tangan kanannya sambil berkata dengan nada yang datar, "Baiklah kalau begitu Bik, gue akan membawa ikan cupang yang paling istimewa buat lo."

Wajah Kaffah yang tadinya masih terlihat mengantuk pun kini berubah menjadi fresh. Bagi Kaffah, pembeli adalah raja, pembeli harus dilayani dengan sikap yang berwibawa. Itulah hebatnya Kaffah, disaat anak-anak lain masih suka ngupil sembarangan, nempelin upil di tembok dan menjejali upil ke tangan temannya, dia malah sudah mengembangkan bisnisnya. Kaffah saat itu telah memiliki jiwa marketing yang tinggi. Transaksi ikan cupang pun terjadi, Kaffah mematok harga teman yaitu tiga ribu rupiah dan gue menyetujuinya. Kaffah pun berjanji dia akan membawa itu cupang besoknya.

Bersambung .....


Selanjutnya: Kaffah membawa cupang pesanan gue. Pertarungan antar cupang pun dimulai. Dan kemudian niat beternaak ikan cupang muncul.. Tunggu kisah selanjutnya di Part 2 Prajurit cupang.

5 komentar:

  1. Balasan
    1. Iya tapi lebih lengkap disini, soalnya disini lebih fokus ke cerita pribadi.. :D

      Hapus
  2. loh >.< 6 c ? wkwkwk *-*V pisss
    temen km si inka lucu ya, kayanya di si sesuatu yang selalu membawa perubahan baru gitu kali ya qiqiqiq lanjuuut dong part 2
    salamn kenal :)

    BalasHapus
  3. kapan-kapan kita adu bang ikan cupang lo sama ikan sapusapu gue? gimana #pertarunganbodoh

    BalasHapus
  4. jaman dulu gue kecil juga anak2 sering piara ikan tempalo buat diadu,padahal kan kasian tuh ikan...
    kalo mau sesuatu yg seru pelihara hiu seru kayanya..*hanya saran* mehehe

    BalasHapus